×

Resolusi BlackBerry di Tahun Kuda

\\ \\ No comments
Tak cuma kita yang punya resolusi saat melangkah memasuki tahun 2014.Vendor ponsel BlackBerry pun juga sudah mengantongi resolusi, setelah terseok-seok di sepanjang tahun 2013. 

Jelas, misi utama perusahaan asal Kanada ini adalah agar kinerja bisnis mereka lebih optimal. Setapak demi setapak, CEO BlackBerry Jhon Chen pun telah mulai menyusun balok strategi guna menggapai gol tersebut. Mulai dari restrukturasi sejumlah divisi dan langkah efisiensi pun dilakukan sang CEO baru tersebut.

Meski digoyang berbagai kabar dan hasil miring di 2013, BlackBerry nyatanya memang masih belum menyerah dalam menyongsong 2014 dengan nada optimistis. Dengan resolusi yang telah disusunya pada tahun kuda ini, BlackBerry pun siap kembali berkompetisi dengan para pesaingnya.

Apa saja resolusinya? Simak ulasannya berikut ini.

1. Bos Baru, Tenaga Baru

http://images.detik.com/content/2014/01/02/319/132257_johnchenceoblackberry2.jpg
Selepas dilantik menggantikan Thorsten Heins sebagai CEO anyar BlackBerry, John Chen langsung melakukan perombakan besar-besaran di sisi internal. Tak tanggung-tanggung, hampir semuanya disapu bersih kecuali Alicia Keysbrand ambassador yang juga Global Creative Director BlackBerry.

Dengan perombakan besar ini, praktis hanya Steve Zipperstein, Chief Legal Officer, yang tersisa dari rezim kepemimpinan Thorsten Heins di level eksekutif papan atas perusahaan asal Kanada tersebut.

Selain Chen dan Zipperstein, tinggal satu lagi sosok eksekutif yang tersisa. James Yersh, Chief Financial Officer yang baru saja menggantikan Brian Bidulka. Bidulka merupakan salah satu eksekutif yang tersisih selain Frank Boulben (eks CMO) dan Kristian Tear (eks COO).

Tear bersama Boulben memang rekrutan yang ditarik Thorsten Heins dari luar perusahaan. Keduanya dianggap gagal, terlebih strategi pemasaran Boulben yang dianggap membawa bencana bagi perusahaan. Khususnya strategi pemasaran BlackBerry 10 yang dianggap gagal.

Diduga Chen melakukan hal tersebut karena lebih mudah baginya untuk menyamakan persepsi dengan orang-orang yang telah akrab bekerja dengannya di masa lalu. Sehingga koordinasi dalam penyusunan strategi kedepannya diyakini lebih mudah dilakukan.

Termasuk lebih segarnya kreativitas dan tenaga yang diberikan oleh amunisi anyar di level atas BlackBerry tersebut.

2. Restrukturisasi Divisi Bisnis

http://images.detik.com/content/2014/01/02/319/132539_bbenterpriseserver.jpg
Demi membuatnya makin efisien, BlackBerry melakukan restrukturisasi pada divisi bisnisnya. Di bawah kepemimpinan Jhon Chen, BlackBerry kini terdiri dari 4 divisi yakni Enterprise Services, Messaging, QNX, dan Devices.

Keempat divisi tersebut menangani masing-masing bisnis yang kini digeluti BlackBerry. Bila Enterprise Services menangani layanan enterprise BlackBerry yang hingga kini masih cukup diakui kehandalannya di dunia bisnis, maka divisi Messaging mengurusi BlackBerry Messenger (BBM) yang kini mulai menjadi lahan bisnis baru BlackBerry.

Sedangkan QNX dapat dipastikan adalah divisi yang menangani pengembangan sistem operasi Blackberry 10 yang terus ditingkatkan kemampuannya.

Terakhir adalah Devices yang mengurusi bisnis perangkat BlackBerry yang kini mulai lesu. Tantangan terbesar memang dipegang oleh divisi devices untuk kembali mengembalikan kejayaan perangkat BlackBerry, walaupun ini bukanlah perkara mudah.

3. Menggaet Foxconn

http://images.detik.com/content/2014/01/02/319/132730_erjasamadenganfoxconn.jpg
Entah berharap tuah yang sama atau tidak, BlackBerry akhirnya mengandalkan Foxconn untuk menggarap perangkat besutannya.

Tujuan BlackBerry memilih Foxconn juga karena perusahaan asal Taiwan ini telah memiliki pengalaman manufaktur yang baik dan diyakini dapat memberikan BlackBerry margin keuntungan yang lumayan, terutama melalui pemilihanan komponen yang sesuai segmen harga.

Tidak Cuma itu, dengan memilih Foxconn, BlackBerry disinyalir juga akan mampu menekan harga jual perangkat besutannya. Sehingga lebih berpotensi di pasar berkembang layaknya Indonesia, Filipina, dan Nigeria sebagai basis penjualan tertinggi BlackBerry.

4. Sihir BBM

http://images.detik.com/content/2014/01/02/319/132835_bbmandroid_460.jpg
Banyak yang bilang jika BlackBerry sama saja bunuh diri dengan melepas BlackBerry Messenger (BBM) ke OS Android dan iOS. Namun BlackBerry pasti telah berhitung dan melihat adanya secercah peluang bisnis dengan keputusannya itu.

Ya, seperti telah diprediksi, BlackBerry bakal makin agresif memanfaatkan popularitas platform pesan instan besutannya tersebut. Salah satunya adalah dengan menggandeng sederet produsen ponsel untuk menghadirkan BBM secara pra-instal pada semua produk miliknya.

Dari 12 produsen ponsel yang telah memastikan kehadiran BBM pada ponsel besutannya, LG menjadi yang terakhir melakukannya pada akhir 2013 lalu. Sedangkan di tahun 2014 ini, produsen yang ingin menjadikan BBM sebagai aplikasi standar diprediksi akan semakin meningkat tajam.

Disebutkan setelah BBM telah cukup popular dikalangan pengguna ponsel, BlackBerry akan mulai menyematkan iklan pada aplikasi garapannya itu. Menyusul fitur BBM Channels yang memungkinkan sebuah produsen mempublikasikan produknya pada pengguna BBM yang terhubung dengannya.

5. Efisiensi Inventori

http://images.detik.com/content/2014/01/02/319/133032_bbz30_gbr7_460.jpg
Salah satu hal yang diyakini sebagai kesalahan yang dilakukan BlackBerry di tahun 2013 lalu adalah inventori produk yang kurang terencana dengan baik.

Hal ini diperparah dengan penjualan yang di luar ekspektasi. Akhirnya, berujung dengan penumpukan barang yang memuncak. Ujung-ujungnya, kerugian yang sangat tinggi pun tak bisa dihindarkan.

Nah, dengan menggandeng Foxconn, BlackBerry meyakini masalah tersebut bisa diatasi. Pengalaman Foxconn sebagai perakit produk bagi sejumlah perusahaan besar seperti Apple, Dell, dan Acer, membuatnya memiliki perhitungan yang baik soal perhitungan jumlah produksi.

Sehingga potensi write-off dari produk BlackBerry yang mungkin terjadi di tahun 2014 pun dapat diminimalkan.
Related News
Comments